Gue punya temen namanya Dita. Dia ini tipe orang yang kalau ada tiket promo ke mana aja, langsung beli. Kerjanya di sebuah agensi, tapi hampir tiap bulan dia bisa nyempilin jalan-jalan — entah itu long weekend ke Bali, atau cuti tiga hari ke Vietnam. Suatu hari dia nanya ke gue: "Menurut lo, gue harus ambil kerja remote yang bisa dari mana aja, atau tetap di kantor yang sekarang tapi minta jatah cuti lebih banyak?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya nggak. Dan gue yakin, banyak orang yang hobinya traveling — atau sering dinas ke luar kota — ngalamin kebingungan yang sama. Dua pilihan ini kelihatan mirip, padahal konsekuensinya beda banget buat hidup kamu.
Kerja Remote: Bebas Secara Lokasi, Tapi Nggak Selalu Bebas Waktu
Kerja remote itu kelihatan kayak mimpi. Bangun pagi nggak perlu macet-macetan, bisa kerja dari kafe di Ubud, atau bahkan dari bandara sambil nunggu flight. Tapi kenyataannya nggak seindah itu.
Gue pernah coba kerja remote selama setahun. Awalnya seneng banget — bisa ngantor dari mana aja. Tapi lama-lama gue sadar, kerja remote itu sering bikin batas antara kerja dan hidup jadi kabur. Jam 9 malam masih buka laptop karena "kan nggak ada yang ngawasin". Weekend pun kadang kepotong karena ada meeting mendadak dengan tim di zona waktu lain.
Baca juga: Cari Kerja Sambil Backpacking: Modal Tipis, Waktu Sisa
Buat kamu yang sering traveling, kerja remote memang ngasih kebebasan lokasi. Tapi bebas lokasi bukan berarti bebas waktu. Kalau kamu lagi di jalan dan tiba-tiba harus ikut call, ya mau nggak mau harus nyari wifi stabil. Belum lagi soal sinyal dan zona waktu yang bikin pusing.
Kerja remote itu bukan soal "bisa dari mana aja", tapi soal "siap nggak kamu tetap produktif di mana pun kamu berada".
Yang Perlu Kamu Cek Sebelum Ambil Kerja Remote
- Zona waktu tim: Kalau tim kamu di US dan kamu di Indonesia, meeting bisa jam 2 pagi. Siap?
- Kebijakan "work from anywhere": Nggak semua perusahaan beneran ngizinin kamu kerja dari luar negeri. Cek dulu.
- Infrastruktur: Kamu butuh laptop yang awet, kuota internet cadangan, dan power bank. Ini investasi nyata.
- Disiplin diri: Kalau kamu gampang tergoda buat jalan-jalan pas jam kerja, kerja remote bisa jadi bumerang.
Kerja Kantoran dengan Cuti Fleksibel: Stabil Tapi Terikat
Di sisi lain, ada pilihan kedua: tetap kerja di kantor, tapi nego jatah cuti atau fleksibilitas waktu. Ini yang gue pilih sekarang. Gue kerja di kantor, tapi gue bisa ambil cuti tambahan tanpa gaji kalau mau traveling lebih lama.
Kelebihannya jelas: ada struktur, ada rekan kerja yang bisa diajak ngobrol langsung, dan ada pemisahan jelas antara kerja dan hidup. Begitu pulang, ya pulang. Nggak ada notifikasi Slack jam 11 malam.
Tapi kekurangannya juga nyata. Kamu terikat lokasi. Kalau mau traveling lama, harus nego cuti, cari pengganti, dan pastiin nggak ada proyek besar yang bentrok. Kadang nego-nya nggak semulus yang dibayangkan — ada atasan yang oke, ada juga yang mikir "kok dia sering banget cuti?"
Gue pernah ngalamin ini waktu mau cuti dua minggu buat naik gunung di Nepal. Prosesnya bukan cuma isi form — gue harus presentasi ke atasan soal rencana kerja selama gue pergi, siapa yang backup, dan gimana progres proyek tetap jalan. Ribet? Iya. Tapi setelah disetujui, gue bisa pergi dengan tenang tanpa mikirin kerjaan.
Jadi, Mana yang Cocok Buat Kamu yang Sering Traveling?
Jawabannya tergantung dua hal: seberapa sering kamu traveling dan seberapa besar toleransi kamu terhadap ketidakpastian.
Kalau kamu traveling hampir tiap bulan, kerja remote mungkin lebih masuk akal. Tapi kamu harus siap dengan jam kerja yang nggak tentu dan tanggung jawab buat tetap produktif di mana pun. Kalau kamu traveling 3-4 kali setahun dan butuh struktur, kerja kantoran dengan cuti fleksibel lebih realistis.
Satu hal yang sering dilupain: wawancara kerja buat dua pilihan ini beda banget. Kalau kamu ngelamar kerja remote, interviewer bakal nanya soal manajemen waktu dan gimana kamu handle komunikasi async. Kalau kamu ngelamar kerja kantoran, mereka lebih peduli soal komitmen dan gimana kamu handle workload pas lagi banyak kerjaan.
Gue pernah wawancara buat posisi remote dan ditanya, "Kalau kamu lagi di tempat sinyal jelek dan harus ikut meeting penting, apa yang kamu lakuin?" Pertanyaan kayak gini nggak bakal muncul di wawancara kerja kantoran biasa. Jadi, siapin jawaban yang beda sesuai posisi yang kamu lamar.
Tips Praktis Sebelum Memutuskan
- Coba dulu sebelum pindah total. Minta izin kerja remote seminggu dari kantor sekarang. Rasain sendiri ritmenya.
- Hitung biaya tersembunyi. Kerja remote butuh internet cadangan, coworking space kadang, dan kopi yang bikin betah. Ini nggak murah.
- Tanya soal kebijakan cuti di wawancara. Jangan malu nanya "berapa jatah cuti dan apakah bisa nego?" Ini pertanyaan wajar.
- Pertimbangkan karier jangka panjang. Kerja remote kadang bikin promosi lebih lambat karena kamu nggak kelihatan "hadir" di kantor. Ini nggak selalu benar, tapi sering terjadi.
Pada akhirnya, nggak ada pilihan yang sempurna. Dita akhirnya milih tetap di kantor dan nego cuti tambahan. Alasannya sederhana: dia butuh temen ngobrol di kantor dan nggak yakin bisa disiplin kalau kerja dari kafe sambil ngeliatin pantai. Gue sendiri sempat coba remote dan balik ke kantoran karena sadar gue butuh struktur.
Yang penting, kamu tahu konsekuensi masing-masing pilihan. Jangan cuma tergoda kata "remote" atau "fleksibel" tanpa ngerti apa yang kamu tukar. Karena pada akhirnya, karier yang cocok buat kamu adalah yang bikin kamu bisa traveling tanpa harus kehilangan kewarasan — atau pekerjaan.
===