Gue tinggal di kota kecil, bukan Jakarta, bukan Surabaya. Kalau kamu juga di kampung atau kota kecamatan, kamu pasti tahu rasanya: lowongan kerja yang ada cuma segitu-gitu aja. Kadang sebulan cuma ada satu info loker yang beredar di grup WhatsApp, dan itu pun yang melamar bisa puluhan orang. Bikin pusing.
Sebulan lalu gue memutuskan berhenti mengeluh dan coba pendekatan yang beda. Bukan nambah sertifikat, bukan ikut kursus online mahal. Justru sebaliknya. Dan jujur, hasilnya di luar dugaan gue.
Baca juga: Kenapa Kamu Selalu Gugup Saat Interview Kerja? Ini Cara Mengatasinya
Masalahnya bukan cuma soal lowongan yang sedikit
Selama ini gue selalu mikir masalah utamanya adalah lowongan kerja di kampung memang sedikit. Itu benar, sih. Tapi sebulan ini gue sadar ada masalah kedua yang jarang dibahas: cara kita melamar kerja juga masih pakai pola kota besar.
Contoh gampangnya begini. Di kota besar, kirim CV lewat email terus di-interview HRD lewat video call itu biasa. Di kampung? Banyak usaha kecil, toko, koperasi, atau kantor kecamatan yang malah bingung kalau dikirimi lamaran lewat email. Mereka lebih percaya orang yang datang langsung, kenalan tetangga, atau setidaknya yang bisa ditemui tatap muka.
Gue dulu ngotot pakai cara kota. Kirim lamaran online ke mana-mana, nunggu balasan, nggak ada. Sebulan terakhir gue balik ke cara yang lebih "kampung". Dan perubahan yang gue rasain justru datang dari situ.
Yang gue ubah selama sebulan
Gue nggak melakukan hal-hal besar. Justru kecil-kecil, tapi konsisten tiap hari. Ada tiga hal yang paling kerasa dampaknya.
1. Mulai kenalan sama orang, bukan cuma sama lowongan
Dulu gue cuma fokus nyari info loker. Sebulan ini gue ganti fokus: ngobrol sama orang. Datang ke warung kopi, ngobrol sama pemilik toko bangunan, mampir ke kantor desa cuma buat nanya-nanya. Awalnya canggung, tapi lama-lama jadi biasa.
Hasilnya? Dalam sebulan, gue dapat tiga informasi kerja yang nggak pernah muncul di grup loker mana pun. Satu dari tetangga yang punya saudara buka usaha, dua lagi dari obrolan santai yang nggak disengaja. Ini yang bikin gue sadar: di kampung, informasi kerja itu jalan lewat mulut ke mulut, bukan lewat portal lowongan.
2. Belajar wawancara dengan cara yang lebih jujur
Ini bagian yang paling berubah buat gue. Dulu kalau wawancara, gue berusaha tampil "profesional" — pakai bahasa yang sok formal, jawaban yang dipoles. Ternyata di kota kecil, pewawancara seringnya ya pemilik usaha sendiri atau orang yang sehari-harinya nggak pakai bahasa kantoran.
Sebulan ini gue latihan jawab pertanyaan wawancara pakai bahasa sendiri. Nggak berlebihan, nggak sok. Kalau ditanya "kenapa mau kerja di sini", gue jawab apa adanya: butuh penghasilan, mau belajar, dan memang dekat rumah. Sesederhana itu. Dan anehnya, respons mereka jauh lebih hangat.
Kejujuran yang sederhana sering lebih meyakinkan daripada jawaban yang dipoles habis-habisan.
Gue juga mulai latihan jawab pertanyaan yang sering muncul: soal izin, soal transportasi, soal kesiapan lembur. Di kampung, pertanyaan kayak gini lebih sering ditanya daripada pertanyaan "apa kelebihan dan kekurangan kamu".
3. Berhenti nunggu balasan, mulai follow up dengan sopan
Dulu gue kirim lamaran terus diem aja. Nunggu. Kalau nggak ada kabar ya sudah, anggap gagal. Sebulan ini gue coba follow up. Bukan maksa, cuma nanya sopan lewat WhatsApp atau datang langsung sekali-dua kali.
Ternyata banyak usaha kecil yang lupa balas bukan karena nolak, tapi karena sibuk. Follow up sopan sering membuka pintu yang tadinya kelihatan tertutup. Gue dapat satu panggilan wawancara cuma gara-gara nanya kabar lamaran yang udah sebulan nganggur.
Perubahan yang kerasa setelah sebulan
Gue nggak mau lebay bilang hidup gue berubah total. Nggak. Tapi ada perubahan nyata yang gue rasain.
- Lebih tenang. Dulu tiap buka HP dan nggak ada info loker, gue stres. Sekarang gue tahu ada jalur lain yang bisa ditempuh.
- Kenalan nambah. Ini modal jangka panjang, bukan cuma buat kerja sekarang.
- Wawancara jadi nggak serem. Karena gue udah latihan ngobrol jujur, wawancara terasa kayak ngobrol biasa.
- Lebih percaya diri. Bukan karena skill gue tiba-tiba naik, tapi karena gue tahu cara main di lingkungan sendiri.
Yang paling penting: gue jadi sadar bahwa cari kerja di kampung itu bukan soal kurang usaha, tapi soal salah cara. Kalau kamu masih pakai pola kota besar di lingkungan kecil, ya wajar hasilnya seret.
Gue nggak bilang cara ini pasti berhasil buat semua orang. Tiap daerah beda karakter. Tapi kalau kamu di kota kecil atau desa dan udah capek nunggu info loker yang nggak kunjung datang, coba deh sebulan ubah pendekatannya. Mulai dari ngobrol sama orang, latihan wawancara pakai bahasa sendiri, dan berani follow up. Kecil-kecil, tapi kerasa.
Siapa tahu, sebulan lagi kamu yang cerita ke gue soal perubahan yang kamu rasain.